Jl. Gatot Subroto 167 Raha +62 04032521025 pemdamuna@munakab.go.id

Berita Terkini

Baca Berita Terbaru Hari Ini

Kegiatan Coastal 500 Retreat yang di selenggarakan oleh RARE di Filipina
Posting, 31-05-2024 | | | Publisher | Dinas Kominfo | , Dilihat = 58 X

Kegiatan Coastal 500 Retreat yang di selenggarakan oleh RARE di Filipina

Sebagai rangkaian dari kegiatan Coastal 500 Retreat yang di selenggarakan oleh RARE di Filipina, Kamis tanggal 30 Mei 2024, para kepala daerah, Walikota/Bupati pesisir yang tergabung dalam Kemitraan Bupati/Walikota Pesisir Dunia, COASTAL 500 melanjutkan kegiatannya dengan melakukan pertemuan dalam diskusi Kebijakan Nasional dan Kebijakan regional yang berkontribusi terhadap komitmen Indonesia terhadap Global.

Acara ini dihadiri oleh 13 pemimpin daerah / walikota dari 7 negara, yakni dari Indonesia yang di wakili oleh Plt. Bupati Muna, Bachrun La Buta serta delegasi lainnya dari negara Honduras, Brazil, Guatemala, Mozambik, Palau Filipina.
Pertemuan ini membahas tentang strategi para pemimpin daerah dalam mengatasi isu-isu global dengan menerapkan strategi local di masing-masing daerahnya. Ada tiga isu yang menjadi  diskusi hangat yakni, Adaptasi Perubahan Iklim, Other Effective (Area Based) Conversation Measures atau di Indonesia dikenal dengan Kawasan pengelolaan perairan yang memberikan dampak konversasi dengan target Nasional 30% kawasan yang dilindungi pada tahun 2045 serta diskusi tentang  Global Biodiversity Framework.

Bapak Bupati Muna menyampaikan beberapa informasi tentang kondis daerah  dan masyarakatnya  dalam melakukan tindakan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Kondisi cuaca yang tidak menentu memberi dampak pada sulitnya dan semakin jauh  melakukan kegiatan perikanan bagi nelayan kecil. Hal ini  cenderung membahayakan keselamatan mereka di laut. Hasil tangkapan yang semakin berkurang dan biaya operasinal kegiatan yang terkadang tidak memenuhi biaya operasional yang telah dikeluarkan.

Pelaksanaan program Pengelolaan Akses Area Perikanan atau PAAP di Muna adalah contoh nyata melakukan tindakan adaptasi berbasis terhadap perubahan iklim bagi nelayan skala kecil. Program ini menerapkan adaptasi berbasis Ekosistem (Ecosystem Based Adaptation)  juga sekaligus adaptasi yang berbasis komunitas (Community Adptation Based). Masyarakat nelayan di Muna diberikan berbagai penguatan kapasitas untuk  untuk  menjamin peran masyarakat pesisir dalam pengambilan keputusan secara kolektif dan memperkuat tata kelola sumber daya perikanan di tingkat lokal.  Program PAAP ini dapat menjamin keberlangsungan sumberdaya perikanan dan konservasi ekosistem laut, namun pada saat bersamaan juga memberikan jaminan penghidupan yang lebih berkelanjutan bagi nelayan skala kecil. Hal ini dapat dipastikan bahwa nelayan kecil dapat melakukan kegiatan penangkapan tidak jauh dari rumah mereka, kepastian keamanan terjamin dan hasil tangkapan yang bisa memenuhi kebutuhan keluarganya.

Dalam diskusi selanjutnya terkait , Other Effective (Area Based) Conversation Measures atau di Indonesia dikenal dengan Kawasan pengelolaan perairan yang memberikan dampak konversasi dengan target Nasional 30% kawasan yang dilindungi pada tahun 2045, Bapak Bupati menyampaikan bahwa apabila OECM diakui oleh Negara Indonesia maka pemerintah daerah memiliki kesempatan besar untuk berkontribusi pada capaian target 30% kawasan laut yang dilindungi pada tahun 2045. Diharapkan dengan adanya pengakuan OECM pemerintah daerah dan masyarkat pesisirnya diberikan ruang yang lebih berkontribusi terhadap melestarikan keanekaragaman hayati laut untuk kesejahteraan nelayan di bidang pemberdayaan masyarakat, kesehatan, Pendidikan dan ketahanan pangan.

Membahas tentang Global Biodiversity Framework atau yang disebut Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati, Bapak Bupati menyampaikan kembali contoh potensi yang dimiliki daerahnya yakni Kawasan mangrove yang sangat luas. Kabupaten Muna memiliki hutan mangrove  sebesar 27.204,55 ha, sekitar 22.175,47 ha kondisi baik dan sisanya 5.029,08 ha kondisi rusak. Mangrove di Kabuten ini adalah merupakan  rumah bagi aneka ragam hayati (aneka ragam ikan, buaya, burung, kepiting) dan disisi lain menjadi ekosistim sebagai  tempat perlindungan terhadap ancaman bencana, seperti angin kencang pada musim-musinm tertentu.

Sebagaimana diketahui Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati (Global Diversity Framework) memiliki  Elemen Kunci dengan tujuan Global untuk 2050, yakni:
1.    Meningkatkan kesehatan ekosistem dan spesies, termasuk menghentikan kepunahan spesies yang disebabkan oleh manusia.
2.    Penggunaan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan.
3.    Pembagian manfaat yang adil dan merata.
4.    Kesenjangan pendanaan keanekaragaman hayati sebesar 700 miliar USD dapat diatasi dengan memastikan tersedianya sarana implementasi yang memadai.

Salah satu strategi Pembangunan kabupaten Muna untuk berkontribusi pada  Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati adalah dengan berupaya menerapkan kebijakan tentang penduan pemanfaatan  hutan mangrove. Beliau juga menyampaikan beberapa usulan program unggulan untuk adaptasi perubahan iklim termasuk memperkenalkan budidaya udang yang berkelanjutan serta mendorong rehabilitasi mengrove yang telah rusak dan melakukan perlindungan hutan mangrove yang masih tersisa

Kembali

Share This

Facebook WhatsApp

Agenda Kegiatan Pemerintah

Pesan Penting Hari ini

Impian tidak dapat terwujud dengan sendirinya, akan tetapi impian akan datang ketika seseorang berusaha untuk meraihnya.

Read More
Link Penting

Akses Cepat


Get In Touch

Jl.Gatot Subroto No 167

info@munakab.go.id

+62 04032125025

© . All Rights Reserved. Designed by Dinas Komunikasi informatika Statistik dan Persandian


Distributed By: Pemerintah Kabupaten Muna